JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Pemetaan Lahan Rawa dan Gambut Mendukung Swasembada Pangan

Bogor – Dalam rangka Updeting Peta Lahan Gambut di Indonesia, Balai Besar Penelitian dan Pengambangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) melaksanakan kegiatan Diskusi Kelompok Terfokus tentang Peta Lahan Gambut dan Peta Tipologi Lahan Rawa.

Kegiatan yang dilaksanakan di BBSDLP pada tanggal 16-17 Oktober 2017 ini dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Ir. Mukti Sarjono, MS; Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Prof. Budi Indra, Ka. BBSDLP  Dr.Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, peneliti lingkup BBSDLP dan undangan dari BPTP, Universitas, BIG, HGI,HITI dan Wetland.

Acara dibuka oleh staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan yang dalam sambutannya menyampaikan diskusi ini sangat baik guna memperoleh saran dan masukan dari berbagai pihak untuk updating peta gambut di Indonesia, mengingat kondisi lahan gambut sekarang berbeda dengan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya. Senada dengan hal tersebut Kepala BBSDLP menyampaikan apresiasi terhadap penyusunan peta lahan rawa dan gambut.

Pada kegiatan ini, peserta diskusi memberikan masukan mengenai updating peta lahan rawa, dikarenakan lahan rawa menjadi salah satu tujuan ekstensifikasi dan sangat potensial dikembangkan untuk komoditas tanaman pangan demi tercapainya swasembada pangan di Indonesia.


Cooperative Farming (CF) Sebagai Solusi Peningkatan Produksi

Pelalawan - Peningkatan produksi padi masih menjadi prioritas utama pembangunan pertanian di Provinsi Riau. Mengingat Riau masih mengalami deficit beras dan sangat bergantung pada pasokan beras dari luar provinsi. Di sisi lain, keberhasilan usahatani padi sangat ditentukan oleh bagaimana memanajemen usahatani tersebut. Dalam rangka perbaikan manajemen usahatani dan membahas program-program pertanian khususnya yang berkaitan dengan peningkatan produksi padi, bertempat di Aula Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) (16/10).

Dalam FGD tersebut, tim BPTP Riau dipimpin langsung oleh Kepala BPTP Riau Dr. Kuntoro Boga Andri, SP., M. Agr. Dalam paparannya beliau menyampaikan konsep Cooperative Farming (CF) sebagai solusi untuk meningkatkan performance manajemen usahatani yang baik. Dalam prakteknya, model CF tidak akan membuat petani kehilangan hak kepemilikan tanah mereka, hanya saja petani harus mau dibina secara kolektif dan diarahkan dalam pengadaan saprodi, pengolahan tanah, penanaman padi dan pemasaran hasil. Bila setiap fase usahatani dilakukan secara bersama di bawah satu manajemen Cooperative Farming. Diharapkan akan diperoleh efisiensi dalam memajemen dan peningkatan produksi padi yang bermuara pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Model Cooperative Farming akan coba diaplikasikan di Pulau Mendol yang merupakan sentra padi di Kabupaten Pelalawan. Dimana lebih dari 80 % padi yang di hasilkan Pelalawan berasal dari pulau yang berada di Muara Sungai Kampar ini. Sebagai langkah pendahuluan, Dr. Rustam selaku penanggung jawab kegiatan dukungan inovasi teknologi di daerah perbatasan mulai menginisiasi penanaman padi pada demplot percontohan  seluas 5 ha menggunakan teknologi Badan Litbang Pertanian, Jarwo Super. Melalui teknologi ini diharapkan bisa meningkatkan hasil dan memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan. Terkait upaya memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan, Fahroji, M.Sc menambahkan beberapa poin penting yang berhubungan dengan pasca panen padi.

Ir. Syahfalefi, M. Si, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan menyambut baik model Cooperative Farming dan sangat mendukung. Beliau meminta agar varietas yang ditanam di demplot percontohan adalah varietas unggul baru spesifik lokasi lahan pasang surut yang merupakan varietas lokal seperti Mendol Pelalawan, Karya Pelalawan, Cekaw Pelalawan, Bono Pelalawan dan Inpara Pelalawan. Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan akan mengusulkan kegiatan CF pada Tahun Anggaran 2018 (RSA).

BPTP Balitbangtan Riau, Kementan Ramaikan Riau Expo 2017

Pekanbaru- Riau Expo 2017, bertemakan menghulu budaya melayu, menghilir riau berintegritas  dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau, Sabtu 14 Oktober 2017. Kegiatan yang diadakan di SKA Co Ex ini berlangsung dari tanggal 14 s.d 20 Oktober 2017.

Gubernur Riau dalam sambutannya menyampaikan pelaksanaan Riau Expo ini dalam rangkaian  ulang tahun Provinsi Riau yang  ke 60, dan sangat mengaprresiasi pelaksanaan kegiatan ini karena adanya peningkatan jumlah peserta pameran sebanyak 270 peserta yang berasal dari Instansi Pemerintah maupun swasta, UMKM dan beberapa provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Jawa Timur.

Gubri berharap semoga tahun ini dengan sinergi semua pihak, investasi dan pariwisata meningkat di Provinsi Riau. Sektor pariwisata diupayakan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi Riau ke depan disamping sektor migas dan perkebunan, dan Riau Expo ini merupakan langkah dalam mensinergikan semua sektor" tambahnya.

Kementerian Pertanian melalui BPTP Riau turut berpartisipasi pada kegiatan Riau Expo ini dengan menampilkan berbagai inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi, produk olahan pascapanen, hydroponik dan berbagai macam bahan publikasi. Pengunjung sangat antusias bertanya tentang produk-produk display seperti begaimana cara budidaya hidroponik dan papaya merah delima. Bahkan produk-produk olahan banyak diminati ibu-ibu sebagai oleh-oleh expo.

                                                           

 

DWP BPTP Riau cegah Kanker Serviks dan Payudara melalui IVA-Tes dan CBE-Tes

Pekanbaru- Dharma Wanita Persatuan (DWP) BPTP Riau bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mengadakan kegiatan  sosialisasi dan pemeriksaan IVA- Tes (Inspeksi Visual Asam Asetat)  dan CBE (Clinical Breast Examination) bertempat di Mess BPTP Riau, Jumat (13/10). Kegiatan ini merupakan deteksi dini dalam mewujudkan wanita indonesia bebas kanker serviks dan payudara.

Tim medis yang terlibat pada kegiatan ini berasal dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Puskesmas Harapan Raya dan Puskesmas Simpang Tiga, Pekanbaru dan dihadiri oleh anggota DWP sebanyak 58 orang.

Dalam sambutannya, Ketua DWP BPTP Riau, Saida Ulfa Kuntoro Boga, M. Ed, PhD, menyampaikan kegiatan  ini merupakan tindak lanjut dari program Ibu Negara Iriana Joko Widodo yang mengistruksikan bagi wanita indonesia untuk melakukan pemeriksaan dini kanker payudara dan kanker serviks melalui IVA-Tes dan CBE-Tes. Program ini bertujuan mengurangi jumlah Ibu yang terkena kanker payudara dan serviks, mengingat penyakit kanker payudara dan kanker serviks ini menempati urutan pertama penyebab kematian Ibu. Dengan kemajuan medis, kanker bisa dideteksi secara dini. “Mari bersama-sama kita menyadari pentingnya deteksi dini penyakit kanker payudara dan kanker serviks ini untuk menghidarkan ibu-ibu dari penyakit kanker” tambahnya

Tim Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru yang diwakili oleh, Silvia Elsih Maser, SKM menyampikan harapannya semoga IVA-Tes dan CBE-Tes ini dapat tersosialisasi ke semua anggota DWP di Provinsi Riau mengingat angka kematian wanita karena kanker payudara dan serviks ini menempati nomor 1 di Indonesia. Penyakit kanker payudara dan serviks pada stadium awal biasanya tidak menunjukkan gejala yang berarti sehingga kurang disadari dan biasanya diketahui setelah stadium lanjut sehingga penanganannya berat, padahal masa inkubasi dan penyebaran selama 10 tahun sebelum memasuki stadium lanjut. Disinilah pentingnya melakukan tes dini untuk mendeteksi adanya penyakit kanker pada Ibu-ibu. “kami berharap hasil tes negatif, namun jika ada yang positif, jangan stress karena ada penanganan jika masih stadium awal/terdeteksi secara dini. Jika ada yang belum diperiksa pada kesempatan ini, silahkan mendatangi puskesmas terdekat untuk mendapat pemeriksaan IVA-Tes dan CBE-Tes ini” paparnya.

Acara dilanjutkan dengan pemeriksaan IVA-Tes dan CBE-Tes pada peserta yang sudah mendaftar dan memenuhi syarat untuk mengikuti tes ini.


 

Revitalisasi Jeruk Nasional di Kampar

Kuok- Tim Revitalisasi jeruk nasional dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika (Balitjestro) bersama BPTP Riau mengadakan pertemuan dengan petani penangkar jeruk di BPP Kuok, Kamis (12/11/2017. Acara ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Kampar diwakili Kabid. Produksi Nanik Saryanti, SP, MMA.

Tujuan dari kegiatan ini adalah dalam rangka mengembalikan kejayaan jeruk Kuok, Kabupaten Kampar. Menurut tim revitalisasi jeruk, yang perlu diperbaiki untuk mengembalikan kejayaan adalah seleksi bibit batang bawah dan batang atas yang digunakan, karena bibit yang digunakan oleh petani jeruk di Kabupaten Kampar selama ini adalah bibit yang kurang berkualitas. Oleh karena itu, bibit berkualitas harus digunakan agar kejayaan jeruk Kuok terwujud kembali.

Usai  Pertemuan, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi kebun bibit jeruk milik petani di Desa Pulau Jambu, Kecamatan Kuok. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak ada keseragaman bibit yang ditanam petani, sehingga perlu adanya sosialisasi teknologi pemangkasan  agar tanaman yang dihasilkan lebih seragam.

Peran Penyuluh Dalam Peningkatan Produktivitas

 

Pekanbaru- Diseminasi teknologi Badan Litbang Pertanian sangat diperlukan untuk mempercepat adopsi teknologi oleh penyuluh, petani dan pelaku usaha tani. Sejalan dengan tugas BPTP Riau sebagai Balai pengkajian dan diseminasi teknologi, Kepala BPTP Riau, Dr .Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr menyampaikan materi tentang dukungan teknologi untuk budidaya tanaman padi pada acara temu tugas penyuluh se Provinsi Riau yang diselenggarakan oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau di Hotel Mutiara Merdeka, Pekanbaru , Rabu (11/10).

Acara ini dihadiri oleh Gubernur Riau, H. Arsyadjuliandi Rahman didampingi Kepala Dinas TPH Bun Provinsi Riau, Ketua KTNA Pusat dan Ketua KTNA Provinsi Riau. Hadir sebagai peserta 100 orang penyuluh se Provinsi Riau termasuk 4 orang penyuluh BPTP Riau, Taufik Hidayat, SP,MP, Ir Destiwarni, MP, Yogo Sumitro, SP dan Dian Pratama, SP.

Dalam sambutannya, Gubri menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap penyuluh di Provinsi Riau. Diharapkan kedepan ada perbaikan kelembagaan dan rencana bisnis petani dengan memanfaatkan penjualan secara online. "Provinsi Riau juga terus mengejar pembangunan insfrastruktur untuk meningkatkan perkembangan ekonomi di Provinsi Riau" imbuhnya.

Dr. Kuntoro Boga menyampaikan rasa terima kasih kepada penyuluh yang sudah mendiseminasikan teknologi dari Badan Litbang. Ditekankan peran penyuluh untuk mensosialisasikan pentingnya input teknologi untuk peningkatan produktivitas padi petani. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa Varietas Unggul Baru (VUB) padi yaitu Inpari 42,43, dan 44 Agritan GSR yang merupakan padi sawah efisien input, mutu premium dan tahan OPT, selain itu ada varietas Inpago 12 Agritan yang merupakan padi gogo produktivitas tinggi untuk tahan masam, serta masih ada beberapa varietas lainnya. Namun adopsi varietas baru ini masih rendah, apakah masalah distribusi benih, adaptasi kurang di lapangan, atau petani tidak mengetahui VUB ini. "Disinilah peran penyuluh sangat diharapkan untuk peningkatan adopsi VUB oleh petani" tambahnya.