JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Membangunkan Raksasa Pertanian Dunia

Lembaga konsultasi ekonomi internasional Pricewaterhouse Coopers (PwC) pada awal tahun 2017, merilis laporan yang menyatakan ekonomi dunia bisa tumbuh lebih dari dua kali lipat hingga 2050, jauh melampaui pertumbuhan penduduk. Hal itu karena peningkatan produktivitas yang didukung oleh teknologi. Raksasa ekonomi terbesar dunia di tahun 2050 diproyeksikan diantaranya China di puncak, India nomor dua dan Indonesia nomor empat. Konsidi ini diakibatkan seluruh sektor utama di negara-negara tersebut bergerak positif. Terutama sektor yang banyak menyerap tenaga kerja dan kontribusinya besar terhadap perekonomian seperti pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, dan sektor konstruksi.

Optimisme ini sejalan dengan program Kementrian Pertanian untuk membangun Indonesia menjadi raksasa pertanian dunia dan lumbung pangan dunia di 2045. Dimana Indonesia memiliki banyak lahan yang belum secara intensif dimanfaatkan baik lahan kering maupun pasang surut (rawa). Selain jumlah tenaga kerja yang besar dan teknologi yang masih dapat ditingkatkan pada sektor pertanian kita.

Strategi ini juga sesuai dengan teori Mellor (1987) yang menyatakan pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh sektor pertanian mempunyai tiga unsur penting yaitu intensifikasi pertanian melalui perubahan dalam teknologi pertanian, permintaan domestik pertanian yang tumbuh cepat, dan permintaan produk yang padat modal.

Ketiga unsur dimaksud secara terus menerus digarap oleh kementrian pertanian dalam tiga tahun terakhir secara bersinergi. Dalam 3 tahun terakhir, strategi dan program pemerintah khususnya kementrian pertanian sudah sangat progresif. Dimuali dari penganggaran yang lebih fokus untuk mendukung sektor pertanian langsung, dimana 70% persen anggaran kementrian dialokasikan untuk petani. Intensifikasi pertanian dilakukan melalui diseminasi dan penerapan teknologi yang tepat guna dan spesifik lokasi. Bantuan alat mesin pertanian mulai dari traktor, combaine harvester, rice transplanter, pompa air dan lainnya untuk petani telah dibagikan mencapai ratusan ribu unit. Juga dalam program upaya khusus swasembada padi, jagung dan kedelai dibagikan bibit gratis dan pupuk bersubsidi atau gratis. Program utama lainnya adalah perbaikan secara masif infrastuktur pertanian seperti bendungan, saluran irigasi, embung, pencetakan lahan sawah baru dan banyak lagi.

Untuk memperkuat permintaan domestik pemerintah menghentikan impor komoditas strategis dan perbaikan pasar komoditas. Jaminan terhadap pasar juga dipastikan melalui operasi Sergab Gabah dan penentuan harga pembelian pemerintah di tingkat petanii bekerjasama dengan BULOG. Asuransi pertanian mulai digulirkan dan nasib petani di daerah perbatasan juga mulai disentuh. Sebagai hasilnya, sektor pertanian turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I dan II 2017.

Meningkatnya kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk terus mendorong peningkatan produksi pangan, terutama komoditas-komoditas strategis. Sektor pertanian menyumbang kontribusi terhadap PDB terbesar yaitu sebesar 13,59% dengan pertumbuhan 7,1% (year on year/yoy). Berdasarkan analisis yang ada, peningkatan PDB sektor pertanian, sebesar 7% akan mendorong peningkatan PDB sektor lainnya sebesar 7,6% dan mendorong peningkatan total PDB sebesar 7,4%. Dari kenyataan ini diyakini sektor pertanian mampu mendorong pertumbuhan sektor-sektor lainnya secara significant. Oleh sebab itu tidak berlebihan kita semua yakin untuk menjadikan sektor pertanian sebagai basis pertumbuhan ekonomi.

Hal itu semua memerlukan kemauan politik, dan dukungan serta kekompakan seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, belum semua rakyat Indonesia sadar bahwa tidaklah semudah membalikan telapk tangan pekerjaan dan tantangan yang harus dihadapi untuk membangun sektor ini. Secara makro sumbangan pertanian dalam ekonomi Indonesia terus meningkat meskipun proporsi dalam GDP menurun dari 22% pada tahun 1990 menjadi hanya sekitar 13% pada tahun 2016. Namun, yang menghawatirkan adalah penurunan jumlah tenaga kerja di pertanian ternyata lebih lambat dari penurunan sumbangan sektor itu dalam GDP. Pada tahun 1990, porsi tenaga kerja sektor pertanian mencapai 55% secara nasional, akan tetapi, angka tersebut hanya turun menjadi 32% pada tahun 2016.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor pertanian tetaplah sektor penting sebagai penyedia lapangan kerja bagi penduduk, meskipun dengan tingkat produktivitas yang rendah. Kondisi ini makin diperberat dengan adanya penurunan ketersediaan lahan sebagai akibat terjadinya alih fungsi (konversi) dan isu lingkungan yang menghantui. Faktor eksternal yang menghimpit pembangunan pertanian juga antara lain adanya peraturan internasional yang dikemas dalam berbagai organisasi, seperti AFTA, WTO, bahkan dimasa lalu kesepatan bilateral atau multilateral seperti perjanjian dengan IMF sering merugikan pertanian domestik kita. Menjawab banyaknya tantangan yang dihadpi semestinya menjadikan pertanian sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi nasional menjadi komitmen semua pihak.

Hal ini juga perlu didukung dengan penguatan kelembagaan dan institusi pendukung sektor agribisnis. Sejauh ini perkembangan koperasi dalam mendukung aktivitas usaha pertanian dan masayarakat pedesaan masih sangat memprihatinkan. Institusi pertanian dan kelembagan ekonomi pedesaan harus dipandang sebagai bagian dari system agribisnis yang perlu mendapat perhatian serius. Apalagi hingga kini aspek insutusi ekonomi kita masih menjadi titik lemah dalam memasuki persaingan era pasar bebas. Pertanian skala kecil menyebabkan tidak effisiennya penggunaan input-input produksi.

Lemahnya institusi ini menyebabkan petani masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses terhadap kredit, mendapatkan informasi pasar, teknologi baru, peluang akses terhadap input dan masih banyak lagi. Terlebih dalam era pasar bebas, globalisasi dan peluasan skala perusahaan agribisnis, terdapat kehawtiran dimana petani kecil di pedesaan akan kesulitan dalam berpartisipasi penuh menghadapi ekonomi pasar tersebut.

Singkirkan dulu perbedaan pandangan politik dan isu-isu yang melemahkan bangsa. Menjadi hal yang absurd jika kita tidak memberikan kontribusi positif dan melemahkan sektor pertanian dalam diskusi dan pemikiran kita. Pangan adalah masalah hidup matinya bangsa Kata Bung Karno beberapa dekade yang lalu, secara nyata saat ini pertanian dan pangan masih menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi nasional (agricultural-led development).

Secara umum, pertanian kita masih menjadi penentu pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, peningkatan devisa, pemerataan, percepatan pembangunan ekonomi daerah, ketahanan pangan dan isu isu lingkungan. Menjawab masalah-masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian di Indonesia kedepan, yang terpenting adalah kita harus menjaga komitmen dan itikad baik untuk bersama sama membangun negara kita untuk menjadi raksasa pertanian dunia untuk mencapai kesejahteraan rakyat Indonesia.(**)

Penulis adalah Peneliti Utama Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau, Kementrian Pertanian. Gelar PhD dari Kagoshima University – Jepang, dalam bidang ekonomi dan kebijakan Pertanian

Source : www.fajaronline.co.id

hacklink nedir hacklink wso shell