JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Visitors Counter

778
TodayToday41
YesterdayYesterday131
This_WeekThis_Week330
This_MonthThis_Month778
All_DaysAll_Days778

Bimtek Pemanfaatan Embung dan Bangunan Air lainnya

Pekanbaru- Upaya pemanfaatan embung dan bangunan air lainnya sangat penting/bermanfaat khususnya untuk wilayah Provinsi Riau yang terus berupaya untuk meningatkan produksi padi, walaupum saat ini Riau belum mampu berswasembada beras, karena baru mampu memenuhi 40% dari kebutuhannya" ujar Kepala BPTP Riau, Dr. Ir. Nana Sutrisna, MP saat membuka acara Bimtek Pemanfaatan Embung dan Bangunan Air lainnya yang dilaksanakan di Aula Hangtuah, BPTP Riau , Senin (14/5/2018).

Selain itu Kepala Balai juga menyampaikan bahwa untuk meningkatkan produksi dan menjadikan Riau bisa swasembada  beras salah satunya dengan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), saat ini peningkatan IP di Provinsi Riau masih terkendala salah satunya karena peramasalahan air/pengairan. “Dengan adanya bimtek in diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan pengairan yang ada di Provinsi Riau” Tambahnya.

Lebih lanjut Kepala Balai  mengatakan kepada peserta yang mingikuti kegiatan ini yangg terdiri dari peneliti dan penyuluh serta perguruan tinggi, bahwa  peserta bimtek ini sebagai ujung tombak penyampai informasi kepada pemerintah daerah sehingga segala upaya atau informasi  yang dipeorleh dapat ditindaklanjuti bersama sama  untuk kemajuan Provinsi Riau.

Hadir selaku narasumber pada bimtek ini Dr. Hermanto, M.Eng, Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi yang menyampaikan materi tentang Potensi dan peran embung dan bangunan air lainnya untuk irigasi pertanian. Dalam paparannya, melalui sinergi 3 Kementerian (Kementerian PUPR, Kemendes dan Kementan) telah membangun embung yang tersebar di Indonesia dengan model dan pengelolaan dana hibah padat karya. Hingga tahun 2017 jumlah embung yang telah dibangun oleh Kementrian PUPR 50 unit, Kemendes 90 unit dan  Kementan sebanyak 5.500 unit embung. Pada tahun 2018 Kemendes akan membangun 150 unit embung  dengan potensi sebanyak 30.000 unit yang akan dibangun dengan dana desa. Peran embung dan bangunan air lainnya utuk irigasi pertanian sangat jelas untuk peningkatan IP dan peningkatan produksi pangan, namun pemanfaatan dan pemeliharaan embung ini harus tetap dilakukan agar berkelanjutan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Budi Kartiwa, Peneliti Balitklimat mengenai survei identifikasi dan desain (SID) embung dan bangunan air lainnya, pemanfaatan dan pemeliharaan embung dan bangunan air lainnya oleh Dr. Nono Sutrisno serta materi pengenalan SISULTAN dan loka peta sumberdaya lahan oleh Ir. Syaiful Bahri, M.Sc dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.