JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Koordinasi Percepatan Luas Tanam dan Pelaksanaan Program Kegiatan APBN 2018

Pekanbaru - Rapat koordinasi percepatan luas tambah tanam Upsus Pajale Provinsi Riau kembali dilaksanakan di Aula Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau dihadiri oleh Penjab Upsus Pajale Provinsi Riau, Dr. Ir.  Abdul Basit, MS beserta tim, Kasubdit Benih, Direktorat Perbenihan Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Haryanto, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPH Bun Prov Riau, Ir. Gusriani, Kepala BPTP Riau, Dr. Ir. Nana Sutrisna, MP didampingi LO/Penyuluh per Kabupaten, Kabid yang membidangi tanaman pangan Kabupaten/Kota se Provinsi Riau, serta petugas pengolah data SP tiap Kabupaten/Kota. Rabu (11/7/2018).

Kepala Dinas TPH Bun Provinsi Riau dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekretaris Dinas TPH Bun, Ir. Yuliatmi, MP memaparkan evaluasi capaian LTT  Oktober 2017 dibanding tahun sebelumnya ada kekurangan capaian LTT Padi seluas 3.081,2 ha; kekurangan LTT jagung seluas 1.503,3 ha; dan untuk LTT kedelai ada peningkatan seluas 3.620,5 ha.  Kepala Dinas TPH Bun memberikan arahan di tahun anggaran 2018 ini, untuk bantuan saprodi Upsus Pajale yang sudah terbit SP2D nya untuk segera dibelanjakan dan direalisasikan penanamannya untuk percepatan LTT Pajale.

Perkembangan kegiatan Upsus Pajale di Provinsi Riau disampaikan oleh Abdul Basit. Hal yang terus ditekankan adalah swasembada pangan merupakan target kita bersama, sehingga diharapkan Kementerian Pertanian dan Dinas Pertaian Provinsi/Kabupaten dapat bersama-sama untuk mencapai target LTT yang telah ditetapkan bersama. Capaian LTT periode Oktober 2016/April 2017 sebesar 64.762 ha sedangkan periode oktober 2017-April 2018 sebesar 62.958, sehingga masih ada selisih pencapaian LTT padi sebesar 1.804 ha.

Mengingat target LTT setiap bulan meningkat, maka diperlukan upaya untuk memetakan luas baku lahan sawah dan lahan kering untuk rasionalisasi target per bulan. Potensi lahan yang masih bisa ditanami yang merupakan target LTT diperoleh dari luas baku lahan dikurangi luas lahan yang sudah ditanami bulan April-Juni 2018 dan luas lahan standing crop. Dengan pemetaan luas baku lahan ini diperoleh luas lahan yang masih berpotensi untuk ditanami pada bulan Juli 2018. Database lahan baku dibuat per kecamatan sehingga setiap target yang dibuat sesuai dengan potensi lahan yang akan ditanami.

Lebih lanjut, Dr Abdul Basit menyampaikan langkah-langkah pencapaian LTT Juli 2018 sebagai berikut :

  1. Optimalisasi penanaman padi gogo di lahan Rawa (Gora), padi gogo di lahan sawah dan padi irigasi air permukaan, padi gogo di lahan kering.
  2. Melakukan persemaian dua minggu sebelum panen.
  3. Mengoptimalkan sumber-sumber air yang tersedia, dengan pemanfaatan pompa air, pengaturan distribusi pengairan yang efisien.
  4. Mempercepat realisasi program dan kegiatan bantuan pemerintah berupa benih padi Inbrida dan padi gogo
  5. Optimalisasi penggunaan alsin pertanian meliputi traktor RD2, RD4, transplanter dan combine harvester
  6. Pendataan LTT oleh BPS bulan Mei dan Juni 2018 supaya dapat di update/diperbaharui sesuai kondisi lapangan.

Pada sesi selanjutnya dipaparkan materi upaya peningkatan LTT dan produktivitas padi di lahan rawa yang disampaikan oleh Kepala BPTP Riau, Dr. Ir. Nana Sutrisna, MP melaui perbaikan pola tanam (kajian/demplot peningkatan IP 100 menjadi 200 menjadi 300); Demplot  Jarwo Super, Integrasi Jarwo Super + Itik dan larikan Gogo (Largo) Super; Display VUB; Bantuan VUB; dan Pengawalan/Pendampingan.

Pada kesempatan yang sama Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Riau, Ir.  Gusriani menyampaikan evaluasi pencapaian LTT, refocusing anggaran kegiatan Upsus, percepatan CPCL penerima bantuan Upsus Pajale sehingga akan mempercepat realisasi pencairan dana bantuan dan pertanaman.

Pada sesi diskusi digali permasalahan kegiatan Upsus Pajale tahun 2018. Permasalahan yang dihadapi diantaranya adalah mengenai ketersediaan benih VUB yang terbatas, alsintan yang kurang sesuai dengan kebutuhan dan jumlahnya terbatas,   pendampingan teknologi masih belum optimal, belum optimalnya  gerakan tanam serentak, update database luas baku lahan belum masuk BPS dan sistem pembelanjaan bantuan upsus yang harus memperhatikan aturan pusat.