JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tim Anjak Balitbangtan Sinergikan Kegiatan di Provinsi Riau

Pekanbaru - Tim Analisis Kebijakan (Anjak) Balitbangtan yang terdiri dari Dr. Rusman Heriawan (Ketua Dewan Pengawas BPDP Kelapa Sawit), Ir. Mewa Ariani, MS (Peneliti Utama PSEKP), Dr. Suci Wulandari (Peneliti Muda Puslitbangbun), dan Dr. Sri Asih Rohmani (Perencana Madya, Sekretariat Badan) mengunjungi BPTP Riau dan diterima langsung oleh Kepala BPTP Riau (Dr. Ir. Nana Sutrisna, MP) didampingi Peneliti BPTP Riau (Dahono, SP. M.Si dan Drs. Empersi, M.Si).

Kunjungan diawali bincang hangat dan diskusi  kegiatan Anjak Balitbangtan mengenai sinergi sistem penelitian dan pengembangan pangan dan pertanian berkelanjutan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Pemda Kabupaten Siak dan lokasi TTP Siak keesokan harinya Selasa, 23 Oktober 2018.

Bertempat di Kantor Bupati Siak, Tim Anjak Balitbangtan diterima oleh Wakil Bupati Siak  (Drs.H. Alfedri, M.Si) didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan Siak (Ir. Budiman), Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Siak (drh. Hj. Susilawati, MM), Kepala Bappeda Siak ( Drs. H. Yan Prana Jaya, MM) dan Kepala UPTD Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (Rianto, SP).

Mengawali perbincangan, Dr. Rusman  menyampaikan rencana penyerahan TTP Siak kepada Pemda Siak pada akhir tahun 2018 untuk itu perlu dipersiapkan alokasi dana dan SDM untuk pengelolaan TTP. Kedepan bentuk TTP tergantung pada kearifan lokal yang penting harus dikelola oleh tenaga profesional. Menjawab hal tersebut Wabup menyatakan bahwa jika sebelumnya TTP Siak masih diperdebatkan menjadi BUMKAM, UPTD, atau Koperasi, namun pada akhirnya Bupati Siak menetapkan TTP Siak menjadi UPTD Teknologi dan Mekanisasi.

Kadis Pertanian menambahkan bahwa saat ini belum ada pola yang tepat untuk posisi jabatan manager TTP karena dari seluruh UPTD belum ada jabatan manager. Dengan mencontohkan rumah sakit sebagai UPTD yang juga menjalankan kegiatan bisnis, Wabup menyebutkan alternatif lain jika TTP berbentuk Bumdes maka TTP bisa dibiayai dari APBD Desa dan pengelolanya adalah pemerintah desa. Sementara jika TTP sebagai UPTD maka UPTD Teknologi dan Mekanisasi dipecah menjadi 2 UPTD, dimana salah satunya adalah UPTD TTP sehingga target dan sasaran kerja menjadi lebih luas.

Selanjutnya Kepala UPTD Teknologi dan Mekanisasi menyampaikan bahwa TTP masih membutuhkan pendampingan SDM dan biaya pasca diserahkan ke Pemda akhir tahun 2018. UPTD Teknologi dan Mekanisasi memiliki wilayah kerja yang luas yaitu se-Kabupaten Siak sehingga ada kekhawatiran menjadi tidak fokus mengelola TTP.  Hal tersebut dibenarkan oleh kadis pertanian yang mengatakan bahwa anggaran TTP untuk tahun 2019 belum dialokasikan oleh Pemda sementara untuk tahun tersebut UPTD Teknologi dan Mekanisasi sudah memiliki anggaran rutin umum.

Wabup menyampaikan bahwa Siak membutuhkan dukungan untuk pengembangan komoditas yang bisa menekan inflasi di Siak seperti bawang merah dan cabai. Beliau juga mengutarakan  ketertarikannya terhadap pengembangan kelapa genjah dan kopyor.

Berkaitan dengan pengembangan komoditas di Siak, Kadis Pertanian menyampaikan bahwa Siak mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian sepanjang musim atau tidak mengenal off season tetapi tata niaga yang ada menyebabkan seolah-olah Siak hanya sebagai konsumen produk pertanian dari luar kabupaten. Selama ini hasil panen komoditas (beras, cabai, ikan, dll) dijual oleh petani kepada pedagang dari luar kabupaten dan dijual kembali ke Siak dengan mengganti identitas asal produk. Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Siak mensinyalir adanya kontrak antara pedagang di Siak dengan pedagang dari Sumbar. Konsumen di Riau banyak yang mereferensi komoditas cabai atau ikan dari Sumbar, oleh karena itu strategi pedagang adalah membawa hasil panen dari Siak ke luar Siak kemudian dijual kembali ke Siak dengan identitas Sumbar.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Rusman menyampaikan bahwa perlu otoritas Bupati untuk memperbaiki tata niaga komoditas pertanian dari Siak dan juga perlu upaya mengubah mind set konsumen lokal. Selanjutnya beliau juga  menyampaikan peluang untuk petani sawit yang akan me-replanting kebunnya. BPDP masih kesulitan menyalurkan dana replanting yang nilainya sebesar Rp 25.000.000/ha. Rusman mengharapkan agar Pemda mendukung petani untuk memperoleh dana tersebut. Hal ini ditanggapi oleh Wabup bahwa ada kendala pada legalitas tanah dimana kepemilikan lahan sering berpindah di bawah tangan sehingga nama pemilik lahan secara administrasi adalah tangan pertama. Namun menurut Rusman BPDP dapat memfasilitasi untuk biaya legalitas tanah melalui pos sarana/prasarana. Caranya, Pemda berkirim surat ke Ditjenbun dan akan ditindaklanjuti oleh BPDP. Jika dananya sudah diperoleh, operasional pengerjaan kebun dapat diserahkan ke pihak  perusahaan.

Melengkapi diskusi panjang tersebut penjab TTP Siak, Dr. Parlin H Sinaga melaporkan progres kegiatan TTP hingga saat ini, antara lain telah mempersiapkan core business perbenihan padi, perbibitan itik dan perbenihan hortikultura yg siap dilanjutkan oleh pengelola TTP selanjutnya pasca diserahkan ke Pemda. Perbenihan padi telah merambah bisnis pemasaran benih hingga ke luar kabupaten dan perusahaan swasta nasional. Penangkar padi telah distimulasi agar mandiri dalam usaha perbenihan. TTP juga telah menginkubasi 20 org calon wirausahawan perbenihan padi, 2 org wirausahawan perbibitan itik dan 2 orang perbenihan hortikultura. TTP juga  berfungsi tempat magang dan pelatihan mahasiswa. Tahun 2018 ini ada 2 gelombang magang mahasiswa di TTP  berjumlah 18 orang. Selain itu telah dilaksanakan berbagai pelatihan perbenihan tanaman pangan, perbibitan itik, penetasan telur, pemeliharaan DOD, perbenihan bawang merah dan buah-buahan komersial. TTP akan mandiri dengan mengelola 50 ha perbenihan padi. Pada bulan oktober, sebanyak 6 orang petani calon wirausahawan perbenihan padi, itik dan hortikultura dimagangkan di Balit komoditas utk meningkatkan wawasan mengelola perbenihan.

Kadis Peternakan Perikanan dan Kelautan Siak menyampaikan permasalahan pada UPT Pembibitan Sapi di Jati Baru Siak yang sudah mati suri karena tidak ada anggaran untuk pembibitan sapi. Kadis menyarankan agar UPT tersebut juga didampingi oleh Litbangtan seperti TTP. Menjawab hal tersebut, Rusman meminta Pemda menyurati Kepala Balitbangtan. Selanjutnya Ir. Mewa menyampaikan bahwa Litbang juga dapat membantu Siak untuk mengembangkan lahan rawa seperti yang dilaksanakan pada Hari Pangan Sedunia di Kalimantan Selatan tahun ini.

Usai berkoordinasi dengan wabup, tim Anjak yang sejak awal didampingi oleh Dr. Parlin H Sinaga dan Drs. Empersi, M.Si  bergerak menuju TTP Siak, meninjau sarana/prasarana dan benih padi. Menurut Rusman, pekarangan TTP masih perlu dibenahi agar lebih asri.