JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyuluh BPTP Riau Ikuti Training di Thailand

Phatumthani, Thailand- Badan Litbang Pertanian mengirimkan 10 orang penyuluh untuk mengikuti Profesional Training Program “Delivering Quality Extension Services”. Training ini dilaksanakan di Asian Institude of Technology (AIT) pada tanggal 17 – 30 September 2017 dengan dana dari SMARTD. Penyuluh BPTP Balitbangtan Riau, Dian Pratama, SP mendapat kesempatan menjadi salah satu peserta training tersebut.

Training ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta mengenai konsep, strategi baru, keterampilan/praktek dalam penyuluhan pertanian. Selain itu memberi kesempatan kepada peserta untuk memperkuat pengetahuan dan pandangannya mengenai berbagai aspek pertanian, penyuluhan pemerintah, sektor swasta, penggunaan TIK di bidang penyuluhan pertanian.

Kegiatan training ini dibuka langsung oleh Dr. Jonathan Shaw, Excecutive Director AIT Exstension didampingi Dr. Md Zakir Hossain, Head agriculture resources and environment program AIT Extension pada tanggal 18 September 2017. Dalam kesempatan ini, Dr. Jonathan menyampaikan bahwa program training ini akan memberikan informasi, materi, teknologi pelatihan sesuai yang diinginkan peserta. Senada dengan hal tersebut, Dr Md Zakir menambahkan program training ini akan memberikan informasi dan teknologi pertanian terbaru yang diterapkan di Thailand. “Training ini akan dilaksanakan di dalam kelas dan diluar kelas berupa field visit ke Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Swasta/Perusahaan, Pusat Pelatihan Petani, dan petani” imbuhnya.

Penyampaian materi di kelas dilaksanakan sebanyak 5 kali yaitu (1) perkenalan dan pengenalan peserta terhadap orientasi program training di AIT, (2) Rencana pengembangan sosial ekonomi nasional untuk kecukupan ekonomi dan pembangunan bekelanjutan (Sufficiency Economy and Sustainable Development) di Thailand, (3) Teknik penyuluhan pertanian dan pengembangnnya, (4) Pendekatan Agroekologis: Analisis Sosial Ekonomi pertanian dengan studi kasus, (5) Model sukses kerjasama petani dengan perusahaan swasta dalam penetasan ikan nila dilanjutkan kunjungan ke tempat penetasan ikan nila di AIT.

Negara Thailand secara administrasi dipimpin oleh Raja sebagai Kepala Negara yang membawahi Majelis Nasional, kabinet pemerintah, dan pengadilan. Berdasarkan data per bulan Desember 2016, populasi penduduk Thailand sebanyak 65.729.098 orang, dengan rincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 32.280.886 orang dan perempuan sebanyak 33.448.212 orang serta terdapat 24.712.420 rumah tangga.

Negara Thailand memiliki “Sufficiency Economy Philosophy” (Filosofi Kecukupan Ekonomi) yang merupakan gagasan dari Raja Thailand di Tahun 1997 saat krisis ekonomi melanda beberapa negara termasuk Thailand. Kecukupan ekonomi berarti memiliki kecukupan untuk mendukung diri sendiri. Kecukupan ekonomi memiliki 3 komponen yaitu sikap sederhana/ tidak berlebih-lebihan, kewajaran dan ketahanan diri yang didukung oleh pengetahuan dan integritas seseorang sehingga setiap orang tahu apa yan akan dilakukan, jujur dan tekun, mengambil jalan tengah/tidak berbuat ekstrim, bertindak yang masuk akal dan berwawasan luas dalam mengambil keputusan serta membangun karakter kuat untuk menghadapi perubahan situasi.

Filosofi kecukupan ekonomi ini dapat mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Negara Thailand melalui program sebagai berikut :

  1. “No Poverty”, melalui kebiasaan untuk mencatat setiap pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, dengan hidup sederhana maka ada penghasilan yang dapat ditabung, tujuan akhir mengentaskan kemiskinan.
  2. “No Hunger”, orang tua memasakkan sendiri bekal makan anaknya ke sekolah sehingga terwujud rasa memiliki, kualitas makanan dan nutrisi terjamin.
  3. “Good health and well-being”, melalui pembentukan sukarelawan kesehatan desa yang mengecek kesehatan masyarakat untuk pencegahan sebelum sakit datang. Selain itu pemerintah juga mendistribusikan “Gold Card” untuk perawatan medis dengan sistem pembayaran bersama sebesar 30 bath (sekitar Rp 12.000) per penyakit.
  4. “Quality Education”, melalui biaya pendidikan gratis dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama, bebas biaya seragam, bebas biaya kegiatan sekolah, bebas biaya buku pelajaran.
  5. “Gender Quality”, melalui pinjaman untuk pemberdayaan wanita. Kelompok wanita minimal 5 orang mengajukan proposal pinjaman kepada pemerintah provinsi untuk usaha pengolahan makanan, kerajinan tangan, dll
  6. “Clean Water And Sanitation” , melalui fasilitas pengelolaan air berbasis masyarakat. Sebagai contoh Desa Mosawan yang telah berhasil mengatasi kelangkaan air dengan program yang disebut “pemulihan hutan hulu”, mengembangkan sistem penyediaan air pegunungan, membentuk komite pengelolaan air dengan biaya rendah, transparansi dan verifikasi keuangan, regulasi pengelolaan air untuk memastikan keberlanjutan program.
  7. “Affordable and Clean Energy” melalui program pelabelan no 5 oleh Otoritas Pembangkit Tenaga Listrik Thailand (EGAT) dan Kementerian Energi. Tujuan program ini adalah supaya masyarakat dapat memilih peralatan listrik yang hemat energi dengan label energi nomor 5.
  8. “Decent work and Economic Growth”, melalui program OTOP (One Tambon One Product). Mendorong masyarakat untuk menghasilkan produk lokal dengan menggunakan keterampilan dan keahlian anak bangsa, secara efisien dan berkualitas standar dunia, kemudian memasarkan produk dalam dan luar negeri dengan tujuan peningkatan pendapatan masyarakat. Contoh produk OTOP yang dipasarkan di dalam bandara Thailand adalah tanaman anggrek hasil kultur jaringan yang diletakkan kedalam botol kecil sehingga dapat berfungsi sebagai hiasan dengan kisaran harga 150 - 500 bath per botol atau sekitar Rp 60.000 – 200.000 per botol.

Field Visit yang dilakukan yaitu kunjungan ke Department of Agriculture Extension (DOAE), Provinsial and District Agricultural Extension Center, SMART Farmer’s Office under DOAE at District Level, Office of Cane and Sugar Board, Talaad Thai Whole Sale Market, Social and Cultural Visit in Ayuthaya, Agricultural Engineering Research Institude, Postharvest Technology Center, Cattle Husbandary Demonstration Center in Kamphaengsaen University, Beef Production Demonstration Center, dan Department of Sustainable Development Thammasat University.

Pada akhir kegiatan training, peserta dibagi dalam kelompok menyusun Group Action Plan dan Group Action Project serta dipresentasikan kepada tim AIT Extension yang dipimpin oleh Dr. Md Zakir Hossain, Head agriculture resources and environment program AIT Extension.