JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

CEKAU DAN KARYA PELALAWAN, PADI LOKAL PASANG SURUT DARI KABUPATEN PELALAWAN

Beginilah jalannya, sungai harus diarungi, laut harus dibelah, dan daratan harus dijajaki. Dengan perahu motor berbahan kayu, sungai dan laut dilalui. Perjalanan tidak selalu nyaman, karena ombak kecil saja sudah membuat perahu ini melonjak-lonjak seiring suara mesinnya yang menderu. Ketika memasuki muara, penumpang mulai hening, berharap Bono tidak muncul atau sudah berlalu. Kalau tidak, gelombang Bono yang terkenal dahsyat akan menggulung perahu dan segala isinya lalu menimbunnya dengan lumpur  di dasar laut. Namun tidak perlu takut. Tanda-tanda alam ini dapat dibaca oleh nahkoda. Jika belum tiba ajal menantang arus Bono, sampailah badan dengan selamat di Kuala Kampar. Berangkat pagi tibalah petang.

 

Inilah Kecamatan Kuala Kampar yang jadi tujuan. Satu-satunya kecamatan sumber pangan terbesar di Kabupaten Pelalawan. Terpisah oleh laut dari daratan Sumatera membuatnya terpencil jauh di mata sehingga lambat menerima arus modernisasi. Kecamatan Kuala Kampar berada di Pulau Mendol. Pulau ini berasal dari delta yang subur. Dan karena kesuburannya itu, produktivitas tanaman pertanian pun cukup bagus.

Padi merupakan komoditas penting setelah sawit dan karet di Kabupaten Pelalawan. Dari 25.600 ha sawah pasang surut yang ada di Kabupaten Pelalawan,  15.900 ha di antaranya terdapat di Kecamatan Kuala Kampar yang selama puluhan tahun merupakan daerah pusat pertumbuhan dan penyebaran berbagai jenis varietas padi pasang surut tetapi baru 9.000 ha yang telah dimanfaatkan secara efektif.

Pada tahun 2008, minimal ada 23 jenis padi lokal pasang surut yang ditanam petani di Kuala Kampar,  diantaranya yang paling dominan adalah kultivar Karya dan Cekau Pelalawan yang sudah termashyur sampai ke seberang dan menjadi kebanggaan Pelalawan. Usaha budidaya padi ini diperkirakan sudah dilaksanakan sejak tahun 1970-an dan masih tetap eksis hingga kini. Kedua varietas ini sudah berkali-kali diadu dengan varietas padi lain dan keduanya tetap sebagai pemenang karena sudah beradaptasi baik di lingkungan yang kurang baik sekalipun dengan teknik budidaya sangat sederhana. Pasarpun sudah mengukuhkan namanya sebagai “trade mark”.

Beginilah biasanya petani menanam padi: lahan disemprot, gulma direbahkan, bibit tua ditanam, dan dipupuk sekedarnya. Benih ditugal rapat-rapat sehingga bibit tumbuh betumpuk-tumpuk, bibit dipecah hingga 2 kali baru kemudian ditanam. Dengan demikian masa persemaian bisa menghabiskan waktu 2 bulan. Benih yang disemaipun jarang yang murni. Oleh karena itu, tanaman di lapangan biasanya sangat bervariasi dan hasilnya rendah, yaitu  3-4 ton gabah kering per hektar untuk kultivar Cekau dan 2.5 - 3 ton/ha untuk kultivar Karya.

Hasil tersebut tergolong rendah dan masih berpeluang ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan menyeleksi jenis-jenis yang berdaya hasil tinggi dari populasi yang tidak murni. Kegiatan pemurnian varietas telah dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Pelalawan dengan BPTP Riau sejak tahun 2007.

Pada saat awal penelitian dilakukan, diketahui bahwa hampir semua kultiivar lokal yang terdapat di Kuala Kampar berumur dalam yaitu 150 - 170 hari setelah sebar, postur tanaman tinggi (> 150 cm), kemampuan bertunas  sedikit, panjang malai bervariasi antara panjang sampai  sedang, serta densitas gabah dalam malai berkisar antara sedang sampai lebat, ukuran dan bentuk gabah masih bervariasi. Khusus pada kultivar Cekau didapatlkan individu pembentuk varietas yang memiliki batang kokoh, daun tegak, jumlah anakan produktif tinggi, malai lebat, bobot 1000 butir lebih dari 28 g, dan hasil tinggi. Sedangkan pada Kultivar Karya didapatkan individu tanaman pembentuk varietas yang memiliki bentuk bulir yang ramping dan beraroma pandan. Oleh sebab itu kedua kultivar tersebut sangat digemari konsumen.

Hasil pemurnian diuji di berbagai lokasi. Lewat berbagai pengujian yang dilakukan, dapat dibuktikan secara ilmiah keunggulan hasil kedua kultivar ini. Dengan teknologi cara petani, yaitu mengurangi dosis pupuk hingga 25% - 50%  dari yang dianjurkan, Cekaw yang sudah murni masih dapat memberikan hasil 5  ton. Dengan pemberian pupuk sesuai anjuran yaitu 150 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl, Cekaw dapat memberikan hasil 6 – 7 ton gabah kering giling per hektar.

Sosoknya tegak dan kokoh seolah memamerkan keangkuhan. Tampil perkasa diantara sederetan saingan membuatnya memperoleh banyak perhatian. Apalagi ketika malai sudah bergelayut bagai mahkota, dia tampak anggun menebar pesona. Maka tidak heran jika banyak yang jatuh hati. Itulah Cekaw, padi kebanggaan Kuala Kampar – Pelalawan. Lain lagi dengan Korea, meski penampilannya tidak segarang Cekaw, keanggunannya membuat padi ini bertahan selama puluhan tahun dan namanya pun masyur dari pelosok sampai ke kota. Dengan bentuk lebih ramping dan aroma harum, membuat Korea laksana permaisuri bagi Cekow yang gagah perkasa.

Sejak kedua kultivar ini dimurnikan, hasil sudah meningkat, yaitu Cekau menjadi 7 t/ha dan Karya menjadi 5 t/ha. Artinya terjadi peningkatan hasil 1.5 – 3 ton/ha atau senilai Rp 4.5 juta hingga 9 juta jika harga gabah Rp 3000 / kg.

Setelah mempelajari karakter padi Pelalawan dan melihat potensinya yang besar dalam mendukung pembangunan pertanian di Kabupaten Pelalawan, maka Pemerintah Kabupaten Pelalawan mengusulkan kepada Menteri Pertanian agar kultivar lokal tersebut dilepas sebagai varietas. Kedua kultivar inipun sudah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan sudah disidangkan untuk dilepas sebagai varietas. Pelepasan Cekau dan Karya sebagai varietas akan mengukuhkan hak masyarakat lokal dalam pengelolaan dan perlindungan kultivar tersebut.

Pelepasan kultivar Cekau dan Karya menjadi inspirasi bagi petani untuk lebih mengembangkan sistem usahatani padi dan memperluas areal pertanaman ke lokasi bukaan baru yang selama ini tidak produktif. Hutan pun dibuka dan kebun kelapa dijadikan sawah.

Selanjutnya terjadi peningkatan kebutuhan benih bermutu yang akan menstimulir tumbuh dan berkembangnya industri perbenihan. Cikal bakal ke arah industri perbenihan skala pedesaan sudah mulai dirintis oleh kelompok tani dimana penangkaran selama ini dilaksanakan.

Eksistensi kedua kultivar ini tentu berkaitan dengan karakteristiknya yang sangat disukai petani. Pada umumnya petani menyukai tanaman padi yang tingginya sedang, batang kokoh, rumpun kompak, umur genjah hingga sedang, gabah panjang ramping atau sedang ramping, tahan hama/penyakit, malai panjang dan lebat, hasil tinggi, dapat diusahakan dengan teknik budidaya sederhana, dan beradaptasi baik di lingkungan setempat. Petani dan konsumen beras di Kabupaten Pelalawan menyukai beras tekstur nasinya pera dan rasa enak. Meskipun memiliki sifat sama-sama pera dengan varietas introduksi, padi lokal Pelalawan memiliki karakter spesifik yaitu agak keras dan tidak mudah basi.

Salah satu indikator kemajuan sistem usahatani padi adalah varietas yang digunakan. Varietas unggul baru berdaya hasil tinggi merupakan kunci dari semua usaha peningkatan hasil padi. Keunggulan suatu varietas tanaman dapat diperoleh dengan cara mengeksploitasi keunggulan kultivar lokal dan atau melalui proses persilangan buatan antara varietas-varietas yang mempunyai keunggulan karakter tertentu.

Perbaikan kedua kultivar tersebut sangat mungkin dilakukan sejauh tidak mengubah karakter yang membuatnya digemari petani dan konsumen. Sejauh ini sudah dilakukan upaya pemurnian dan persilangan dan telah menunjukkan kemajuan yang sangat nyata. Daya hasil kultivar Cekau dan Karya yang telah dimurnikan ternyata lebih tinggi dibandingkan populasi dasarnya.

Namun bagaimanapun unggulnya suatu varietas, jika tidak diikuti teknik budidaya yang benar, potensi genetiknya tidak akan terekspresi atau hasil yang diinginkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, varietas Cekau dan Karya yang berdaya hasil tinggi harus ditanam sesuai dengan aturan, yaitu:

  1. Umur bibit 25 hari sejak semai
  2. Tanaman pada persemaian dipupuk dengan Urea 50 kg/ha, TSP 50 kg/ha, KCl 25 kg/ha (Urea 25 kg, TSP, dan KCl seluruhnya diberikan satu hari sebelum tebar benih, dan Urea 25 kg/ha diberikan saat umur persemaian 13-14 hari, luas persemaian 5% dari luas pertanaman;
  3. Jarak tanam 20 x 20 cm;
  4. Jumlah tanaman per lubang 2 batang;
  5. Pupuk dasar Urea 100 kg/ha, TSP 150 kg/ha, KCl 50 kg/ha, diberikan bersamaan dengan Furadan 16 kg/ha satu hari sebelum tanam;
  6. Pupuk susulan Urea 50 kg/ha dan KCl 50 kg/ha diberikan pada umur 35 hst;
  7. Penyiangan menggunakan herbisida;
  8. pengendalian terhadap hama penyakit dengan metode PHT.
  9. Panen pada saat gabah sudah menguning 95%

Berusaha tani di lahan pasang surut yang biasanya miskin sarana prasarana tidak selalu menguntungkan karena sangat tergantung pada fluktuasi iklim maupun serangan hama dan penyakit. Bagian tertentu dari wilayah pasang surut sangat rentan terhadap tingginya genangan  dan intrusi air laut, yaitu wilayah yang landai dan dekat ke laut. Tetapi areal yang jauh dari pantai dan sungai, rentan terhadap kekeringan.

Ledakan hama tikus sering tidak terkendali dan mengakibatkan fuso. Hama lain pun seolah tidak mau kalah. Meski berbagai usaha sudah dilakukan, hasil tidak selalu di tangan. Manis dan pahit hidup di wilayah pasang surut yang terisolir harus dihadapi. Hambatan banyak sekali tetapi mereka tidak menyerah karena hidup harus terus berjalan.