Bekatul Penjinak Kolesterol

Hits: 564

Riset ilmiah membuktikan minyak bekatul mengontrol kolesterol

Gorengan menjadi kudapan sederhana di rumah yang paling praktis dan nikmat. Bahan mudah diperoleh, mengolahnya cepat, dan bisa disajikan selagi hangat kepada keluarga. Namun, di balik kelezatan gorengan itu tersembunyi ancaman bagi kesehatan. Pemanasan minyak selama proses  menggoreng membuat kadar asam lemak trans (trans fatty acid, TFA) dominan. Padahal, "Asam lemak trans memicu gangguan jantung dan pembuluh darah," kata dokter di Jakarta Timur, dr. Fetty Amalita Madjid.

Pembentukan TFA tidak terhindarkan karena proses pemanasan. Cara terbaik memetik khasiat kesehatan dari minyak adalah dengan cara meminum langsung. Namun, meminum minyak untuk kesehatan juga minyak dingin biasanya terbatas karena rasa tidak begitu enak. "Berbeda dengan minyak jelantah panas, yang justru meningkatkan rasa sambal bawang," kata praktisi gaya hidup organik di Jakarta, Christopher Emille Jayanata.

Vitamin E

Semua orang ingin minyak enak dan sehat. Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah minyak bekatul (rice bran oil, RBO). Minyak yang menjadi tren di negara-negara barat pada awal 2000 itu hingga kini banyak dikonsumsi selain minyak bunga matahari, jagung, dan kedelai. Salah satu kelebihan minyak bekatul adalah tidak mudah rusak akibat pemanasan. Peneliti di Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya, Palembang, Subriyer Nasir dan rekan-rekan menyebutkan, titik uap minyak bekatul adalah 254°C.

Kandungan minyak bekatul antara lain 47% lemak tak jenuh tunggal, 33 % lemak tak jenuh ganda, dan 20% lemak jenuh. Minyak itu dominan kandungan vitamin E berbentuk tokotrienol (alfa dan gama tokotrienol). Setiap gram minyak bekatul mengandung 218 mikrogram alfatokotrienol dan 59 mikrogram gamatokotrienol, 180 mikrogram alfatokoferol, dan 38 mikrogram gamatokoferol. Periset dari Laboratorium Pangan Universitas Kyushu, Jepang, Michihiro Sugano dan rekan menyatakan kekuatan antioksidan tokotrienol lebih tinggi ketimbang tokoferol.

Hal itu lantaran tokotrienol tersusun atas rantai karbon pendek dengan 3 ikatan rangkap di percabangan, sangat muda mengikat radikal bebas. Sebaliknya, tokoferol terdiri atas rantai karbon panjang tanpa percabangan berikatan rangkap. Periset di Pennington Biomedical Research Center,Louisiana State University, Amerika Serikat, Marlene Most dan 3 rekannya menguji efektivitas minyak bekatul menurunkan kolesterol darah. Mereka menguji secara klinis terhadap 40 responden.

Subjek uji mereka bagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama-13 orang mengonsumsi tepung bekatul nirlemak, dalam bentuk tepung maupun olahan seperti biskuit, selama 8 minggu. Sebanyak 13 orang lain menjadi kelompok kontrol untuk kelompok pertama. Kelompok kedua, 14 orang, mengonsumsi minyak bekatul. Kontrol untuk kelompok kedua, juga 14 orang, mengonsumsi minyak sehat yang terdiri atas campuran minyak kacang, zaitun, jagung, kanola, sawit, dan mentega.

Marlene dan rekan membuktikan bahwa konsumsi minyak bekatul lebih efektif menurunkan kolesterol. Setelah 5 pekan, subjek uji yang mengonsumsi tepung bekatul nirlemak justru lebih tinggi kolesterolnya dibandingkan dengan kelompok kontrol (5,21 mmol per I darah vs kontrol 4,48 mmol per). Sebaliknya, kelompok yang mengonsumsi minyak bekatul, kolesterol darahnya lebih rendah daripada kontrol (4,95 mmol per I vs kontrol 5,22 mmol per l).

Merusak lipase

Kelebihan minyak bekatul dibandingkan dengan tepung itu lantaran proses pemanasan ketika pembuatan minyak. Riset Subriyer Nasir dari Universitas Sriwijaya, Palembang, sebelum ekstraksi minyak bekatul dipanaskan sampai suhu 100-120°C selama 10-15 menit. Pemanasan tidak mesti dengan memanggang wadah bekatul, bisa juga dengan mengalirkan uap panas. Menurut Subriyer pemanasan merusak enzim lipase sehingga kandungan minyak terpisah dari ikatan lemak.

Pemanasan itu tidak terjadi di tepung, kalaupun dilakukan hasilnya tidak seefektif minyak. Yang disebut minyak sejatinya adalah ekstrak karena bekatul tidak dikempa atau disuling, melainkan direndam dalam pelarut nonpolar. Ekstraksi dan pemurnian juga mengandalkan pemanasan sesuai titik didih pelarut, yang lebih rendah ketimbang minyak bekatul. Hasilnya minyak bekatul jernih dengan kadar asam lemak bebas (free fatty acid, FFA) 40-45%.

Dengan manfaat itu, mestinya minyak bekatul menjadi rekomendasi kesehatan. Sayang, di Indonesia minyak dari kulit beras itu kalah populer dengan minyak sehat lain. Padahal, harga minyak bekatul lebih murah ketimbang minyak zaitun, kedelai, atau jagung, yang semuanya berasal dari impor. Minyak bekatul di pasar saat ini pun didatangkan dari mancanegara. Jika potensi minyak bekatul lokal tergarap, niscaya jumlah penderita hiperkolesterolemia berkurang.(Argohartono Arie Raharjo)

Sumber: Trubus - Mei 2019